Tag

,

Setelah selama kurang lebih 3thn menjadi pemegang Credit Card (cc) Visa Bank C, akhirnya beberapa hari lalu saya sah menyudahi hubungan saya dengannya. Tindakan pemutusan hubungan ini saya ambil setelah melalui perenungan yang dalam namun singkat. Singkat, karena saya putuskan setelah melihat e-statement terakhir yang dikirimkan dimana disitu ada penagihan atas biaya iuran tahunan.

Mungkin bagi sebagian orang, iuran tahunan sebesar Rp 150rb bukanlah masalah. Sebenarnya buat saya juga gak terlalu masalah, mengingat saya termasuk pengguna kartu kredit yang setia. Tapi menjadi masalah buat saya karena beberapa hal yaitu:

1. Too much CC

CC Bank C ini sebenarnya adalah cc ke tiga yang saya miliki setelah Bank A dan Bank B. Dapetnya pun bukan karena saya pengen atau mengajukan, tapi karena saya nasabah di Bank C sehingga ditawari dengan iming-iming a-z. Sudah ditolak-tolak tapi kasian juga ke salesnya, demi dia dapet poin, ya sudahlah diterima saja.

2. Jarang digunakan

Karena poin 1 diatas, saya akhirnya menjadi jarang banget menggunakan cc Bank C tsb. Wong saya masih merasa cukup dengan menggunakan cc yang sebelumnya kok. Makanya beberapa kali terima e-statement dengan total tagihan sebesar O.

3. Limit yang rendah

Ini alasan lain kenapa saya tidak terlalu suka dengan cc Bank C ini. Limitnya sedikit sekali. Ibarat kata, belanja bulanan sekali juga udah selesai deh *yaaa sebulanan lebih lah :P*. Di cc Bank A dan B, saya malah mendapatkan limit yang jauh lebih besar. Bahkan di Bank B, pernah menaikkan limit secara otomatis karena melihat pemakaian saya dan history pembayaran yang juga baik.

4. Iuran tahunan

Nah, ini menjadi trigger-nya sehingga saya putuskan untuk putus aja dari Bank C ini. Dulu waktu awal banget, saya pernah bilang mau ambil cc ini tapi gak mau dikenakan iuran tahunannya karena saya tau pasti akan sangat jarang saya gunakan. Dan disanggupi. Eh, ternyata 2 tahun belakangan ini dikenakan terus menerus. Meskipun tahun sebelumnya waktu saya bilang mau berhenti saja jadi penggunanya, eh malah di hapuskan dong iuran tahunannya sampai akhirnya tahun ini dikenakan kembali.

Jadi dengan tekad bulat, saya tegaskan bahwa saya ingin putus!!! dan akhirnya dikabulkan :), langsung cc-nya saya gunting dan cabik-cabik supaya tidak bisa disalahgunakan oleh orang yang mungkin akan menemukannya diantara tumpukan sampah.

20151216_163657[1]

babaaaaay cc 😀

Tapi, saya bukannya alergi terhadap cc loh, buktinya sampai saat ini saya masih mempertahankan hubungan saya dengan 2 cc lainnya, yaitu Bank A dan Bank B. Dengan salah satu pertimbangan yaitu, limit yang diberikan cukup besar.

Dulu banget waktu masih awal-awal kerja, saya termasuk yang idealis banget tentang cc. Belajar dari pengalaman mereka-mereka yang sudah lebih dahulu menggunakan cc, seringkali cc itu jadi bumerang. Makenya enak, bayarnya ogah. Akhirnya bikin susah dan malu semua orang karena didatengin para debt collector karena utang cc yang semakin menggunung. Jadi saya bertekad, tak usahlah punya cc kalau nantinya akan mendatangkan bencana dalam hidup.

Namun seiring berjalannya waktu, sekian lama saya bekerja, saya masih bisa mempertahankan idealisme saya itu, sampai akhirnya agak terbuka sedikit karena saran dari atasan saya. Jadi kira-kira inti sarannya adalah bahwa cc itu berguna untuk saat-saat mendesak (urgent) misalnya harus ke rumah sakit segera sementara uang cash belum ada atau untuk pesan tiket pesawat. Dan hal ini terbukti, waktu saya harus dirawat dengan biaya yang lumayan besar dan hanya di cover setengah oleh perusahaan, cc inilah penyelamat saya. Jadi memang benar, cc ini jadi penolong disaat-saat mendesak dan terdesak 😀

Bagaimana dengan sekarang? apakah masih untuk kebutuhan yang mendesak? jawabannya iya. Misalnya, mendesak harus DP biaya pernikahan, mendesak untuk beli tempat tidur, kulkas, TV, bayar asuransi dan lama kelamaan mendesak untuk beli baju, tas, sepatu, dsb, bahkan sampe urusan popok bayipun jadi saya anggap itu urusan mendesak sehingga harus menggunakan cc *tepok jidat*, yang ini mungkin gak baik untuk ditiru ya karena saya anggap idealisme yang saya pertahankan dahulu benar-benar luluh lantak jadinya hahahaha.

Baru benar-benar saya pahami mengapa banyak orang disekitar saya yang terjebak karena penggunaan cc yang kebablasan. Soalnya yang dipakai adalah perasaan sih. Perasaan gak ngeluarin duit karena tinggal gesek, jadi enteng aja gitu kan. Giliran dapet lembar tagihan cc yang besar, yang dibayar bukannya sejumlah tagihan, tapi hanya sejumlah pembayaran minimum saja yang akhirnya membawa malapetaka karena hutang atau tagihannya gak lunas-lunas. Yang ada malah terus berbunga dan berbunga. Kalau bunganya bunga deposito ya bagus dong, lah ini bunga utang!

Bahayanya lagi, ada juga orang yang menggunakan cc untuk berinvestasi. Jadi dana di cc digunakan untuk alasan investasi. Duh, mau investasi kok pake utang? bukannya investasi itu karena kita punya dana lebih ya? yang ada malahan waktu ternyata investasi tidak berjalan mulus sesuai perasaan dan bayangannya, akhirnya berakhir dengan bencana karena utang-utangnya.

Saya jadi ingat dengan beberapa orang staf di kantor yang mengalami masalah dengan pembayaran cc nya sehingga kantor harus turun tangan, bahkan ada juga yang meninggalkan dunia ini dengan tagihan cc yang tidak dapat diselesaikan, aib bukan hanya untuk dirinya tapi jadi menyeret keluarganya juga 😥

Dari beberapa kasus itu, banyak pelajaran yang saya pribadi ambil. Walaupun saya banyak menggunakan cc, tapi saya harus tetap membayangkan dan berprinsip bahwa itu adalah uang cash sehingga pada saat tagihan cc datang saya punya kewajiban untuk membayar seluruhnya. Kenapa? karena saya paling males dan paling parno bawa uang cash banyak meskipun dengan tujuan belanja ke mall atau belanja bulanan. Lebih ringkes dan lebih aman rasanya kalau hanya bawa kartu saja, baik itu kartu Debet ataupun cc. Apalagi semakin banyak kasus kejahatan seperti penodongan, jambret dll.

Jadi buat saya, sejauh ini cc masih sebagai kawan. Dan memang seharusnya begitu. Yang menjadikan cc sebagai musuh adalah diri kita sendiri, lebih tepatnya keinginan kita yang gak terkontrol dan pake perasaan tadi *ini self-reminder*. So, untuk yang sering pake perasaan mungkin lebih baik gak coba-coba pake cc ya. Puas aja dengan menggunakan uang cash yang ada, daripada jadi malapetaka nantinya 🙂

Ini pas banget loh kemarin bokap eike ngirimin ini via WA, pas dibaca eh kok ya passss banget lagi bahas cc.

Setuju? kurang setuju?

IMG-20151216-WA000

Yaaa, kalau bisa dijauhkan ya menjauh. Kalau gak bisa jauh-jauh ya monggo mendekat :p

 

 

 

Iklan