Tag

Akhir bulan ini, si bocah akan menginjak usia 22bulan. Jangan tanya sudah bisa apa saja ya? karena gak akan cukup kata untuk menceritakannya hehehe. Bocah udah gak bisa diem dan gak mau diem, which is good juga sebenarnya untuk perkembangan motoriknya kan.

Kebanyakan anak-anak jaman sekarang pasti sangat biasa dengan yang namanya gadget. Nah, bocah saya juga gak lepas dari benda ini. Tapi masih sangat kami batasi. Tidak untuk lihat game atau main game anak-anak, tapi boleh pegang gadget hanya untuk telfon daddy, opung, lihat-lihat foto dan video dirinya atau video orang nyanyi. Oh iya, bocah nih anteng banget kalau lihat orang nyanyi, bisa minta diputer berulang-ulang. Semoga besarnya jadi penyanyi ya, nak. Penyanyi di gereja khususnya :), amiiinn.

20160309_194045

nyimak lagu “oh happy day…” 🙂

Waktu awal-awal mengerti bahwa gadget/ HP itu ternyata bukan hanya bisa untuk telfon daddy, adalah waktu saya ajakin untuk foto. Saya foto bocah trus tunjukkin hasilnya atau saya dan bocah berfoto bersama alias wefie. Tanpa sadar, karena kalau berfoto saya sering memberi aba-aba “1, 2…” klik. Eh, beberapa hari belakangan setiap kali si bocah pegang HP maka akan diarahkan ke mukanya trus bilang “satu, dua..” dan senyum sendiri hahaha.

Reaksi saya? ketawa laaah dan bengong. Lah, ini bocah bener-bener menyerap apa saja yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya ya. Gayanya lucu banget dan seneng banget waktu lihat hasil foto dirinya sendiri. Satu sisi, saya menganggap hal tsb lucu karena melihat tingkah lakunya, tapi di sisi lain saya juga deg-degan.

Deg-degan karena akhirnya the time is here, akhirnya datang juga. Yes, saya sering membaca bahkan mendengar bahwa anak adalah peniru ulung. Terutama saat akan mulai memasuki usia 2th. Kejadian diatas membuat saya berpikir bahwa saya harus semakin mawas diri karena ada seorang anak kecil yang siap menyerap dan meniru apapun yang saya lakukan atau katakan. Nah, ini sebenarnya harus jadi pe-er untuk semua anggota keluarga sih. Iya kalau pemahaman kita sama dengan anggota keluarga yang lainnya, kalau beda? ini yang susah.

Misalnya, waktu bocah gak mau bagi makanannya dengan orang lain, eh diceletukin “ihhh..pelittt”. Alarm saya langsung nyala. Kata-kata apa itu yang secara tidak sengaja sedang diajarkan ke si bocah?! Karena gak lama, si bocah langsung bilang “peyiiit” >.< . Nah ini tantangan besar buat saya, karena sebagai ibu yang juga bekerja, saya gak bisa memantau terus informasi apa saja yang diberikan kepada si bocah. Seringnya malahan saya yang terkaget-kaget dengan penambahan kosa kata atau tingkah lakunya.

Harusnya kita semua yang mengaku orang dewasa, mengambil tanggungjawab untuk menjadi contoh yang baik bukan hanya bagi anak kita sendiri, tapi bagi anak-anak yang ada disekitar kita. Anak siapapun itu. Karena lingkungan juga bisa mempengaruhi mereka. Tidak heran, meskipun dirumah tidak pernah diajari berbicara A, tapi begitu main ke tetangga, atau mulai sekolah eh balik-balik kerumah sudah sangat lancar bicara A. Yes, mereka peniru ulung.

Beberapa waktu lalu, saya membaca salah satu buku luar biasa tulisan John. C. Maxwell yang judulnya “Developing the leaders within you” (masih baca sih sampai sekarang..). Mungkin di lain kesempatan saya akan bagikan isi bukunya ya :). Nah, di salah satu halamannya, beliau bercerita tentang sebuah plakat puisi yang pernah diberikan oleh sahabatnya. Isinya bukan hanya menyentuh tapi bikin mata saya berkaca-kaca.

20160312_192752

great book, great writer, great leader!

Saking menyentuhnya, sehabis baca itu puisi, saya langsung foto dan kirim ke mr. suami. Yes, this is a gentle reminder buat kami sebagai orang tua. Coba simak isi puisinya:

20160312_194317

..Saya sedang membangun tahun-tahun masa depan untuknya..

Setiap kali saya membaca ulang puisi ini, saya merinding dan berkaca-kaca. Bagaimana saya tidak boleh salah melangkah, bagaimana saya harus selalu ingat bahwa kapanpun dan dimanapun, si peniru ulung saya ini akan selalu mengikuti saya.

May God help me to be a good and a great example for my toddler.

Iklan