Tag

Sebelumnya saya sudah beberapa kali membaca tulisan di milis sehat mengenai pengalaman beberapa ibu yang anaknya mengalami Kejang Demam (KD). Tidak pernah terbersit di pikiran saya bahwa saya akan menghadapinya suatu saat nanti. Ngebayanginnya aja gak pernah. Sampai hari Selasa tanggal 3 Mei kemarin.

Senin malam waktu saya pulang kerja bersama suami, bocah udah tidur tenang. Tapi waktu tengah malam bangun dan minta menyusu seperti biasa, badannya panas luar biasa. Saya kaget karena biasanya kalau bocah mau sakit flu atau batuk, maka demamnya gak langsung tinggi seperti malam itu. Sambil menyusu saya cek suhunya dengan digital temp dan hasilnya adalah 39′. Selesai menyusu, bocah gelisah dan belum bisa kembali tidur, sehingga saya dan suami putuskan untuk memberikan Sanmol drop dengan dosis sesuai BBnya. Gak berapa lama, barulah bocah bisa mulai tidur kembali setelah digendong bolak balik keluar kamar karena terus menerus merengek.

Saya pikir paginya keadaan akan membaik, tapi waktu pagi-pagi terbangun saya cek suhu badannya naik sekitar 40′ dan kembali diberikan Sanmol. Hari itu saya putuskan tidak masuk kerja dulu karena baru kali ini bocah demam tinggi (tanpa flu dan batuk) dan pastinya akan sangat merepotkan opungnya nanti. Daaan bener aja, bolak balik sepanjang pagi sampai siang itu, bocah minta bobo, nen, bobo, nen, dan gak mau makan 😦 . Biasanya buah paling doyan, tapi hari itu sepertinya gak nafsu liat makanan. Makanan yang masuk mulai pagi – siang hanya beberapa keping biskuit, 2 sdm nasi. Setiap kali minta nen, saya tawarkan untuk minum air putih juga tapi sedikit banget yang masuk.

Setiap beberapa jam sekali saat tidur atau menyusu saya cek suhunya dan suhu masih sekitar 38′ atau 39′. Bolak balik mr. suami nanyain kabarnya bocah dan waktu mulai siangan dia sudah minta supaya dibawa aja ke RS tempatnya bekerja karena demamnya tinggi terus. Tapi saya menolak, demam belum 3×24 jam, dokter juga pasti belum bisa diagnosa apa-apa. Mau cek darah juga percuma pasti belum ketauan apa-apa. Makanya saya mau observasi dulu.

Jam 13.30, bocah bangun setelah sekitar 15 menitan tidur dan saya baru selesai mandi (iya dari pagi belum sempet mandi karena bocah sebentar-sebentar bangun). Waktu bangun dan minta nen, saya cek suhunya hampir 39′ jadi saya kasih Sanmol dulu sebelum menyusu. Setelah menyusu, bocah tidur kembali dan saya letakkan di tempat tidur.

Entah kenapa saya mulai berpikir untuk mulai baca-baca lagi buku tulisan dr Wati khususnya mengenai KD. Saya ingin jaga-jaga, karena khawatir dengan demam yang lumayan manteng tinggi begitu, anak-anak pasti rentan kena KD. Baru juga saya beranjak dari tempat tidur, tiba-tiba saya lihat bocah kayak kaget-kaget gitu. Kalau saya gak salah hitung, sebanyak 2 atau 3x. Karena memang bocah gampang banget kagetan kalau tidur, jadi saya langsung hampiri dan elus-elus dadanya supaya dia tenang. Saya gak nyangka, waktu saya tenangkan sambil “sssshh sshhh sshhh”, tiba-tiba matanya terbuka, tangannya meregang keatas, kakinya juga tegang dan dari mulutnya berdesis dan keluar air liur. I won’t forget the moment. That was the scariest and saddest moment ever in my life 😥

Saya tau ini mungkin yang disebut KD. Dan saya panik. Saya belum sempat membaca ulang apa yang harus dilakukan saat KD dan si KD sudah menyerang. Sambil saya genggam tangannya, saya panggil-panggil kedua orang tua saya yang ada diluar kamar. Setengah berbisik saya terus sebut juga nama Luke dan Tuhan Yesus. Waktu masuk ke kamar, orang tua saya juga gak kalah paniknya. Maklumlah mereka juga belum pernah menghadapi KD karena kami anak-anaknya dulu tidak ada yang pernah KD.

My dad asked me to go to the nearest clinic right away. Didekat rumah memang ada klinik BPJS yang juga klinik Ibu dan Anak. Jadi sambil nginget-nginget apa tata laksana KD yang gak kunjung hinggap di otak saya (namanya juga panik ya), saya langsung gendong bocah dan saya lihat air liurnya makin banyak yang keluar. Ditemani ayah saya yang lebih panik dari saya, kami berlari sambil Luke ada digendongan saya menuju ke klinik tsb. Sepanjang kami berlari itu, saya bisikkan doa di telinganya dan saking paniknya saya selipkan jari telunjuk saya diantara giginya karena takut dia menggigit lidahnya, yang ternyata tidak boleh dilakukan yaaaaa. Rasanya sakittttt, tapi kalah dengan paniknya.

Waktu sampai di klinik tsb, lapor ke dokter dan suster, mau masukkan obat KD dari anus (Stesolid) daaaan obatnya tidak ada. Dalam hati, saya mau marah-marah, masa iya klinik Ibu dan Anak tapi gak punya stock obat KD???!! tapi saya prefer menanyakan hal lain ke dokter sambil terus memegang tangan Luke. Saya tanya, “Jadi dok, saya harus kemana dan bagaimana?” dan puji Tuhan walaupun sempat panik tapi saya bisa jelaskan kronologi KDnya dan dengarkan instruksi dari dokternya. Mungkin karena saya lihat dokternya juga cukup tenang meskipun melihat kami panik, jadi sayanya kebawa tenang. Akhirnya kami putuskan untuk segera bawa Luke ke RS Hermina Jatinegara, setelah juga mr. suami kasih instruksi by phone untuk tetap tenang. Jadi my papi lari kerumah ngambil mobil plus dompet dan tas Luke, my mami ngurusin admin di klinik tsb setelah mereka memasukan Proris (penurun demam) dari anus.

Sepanjang perjalanan di mobil Luke nangis dan menolak menyusu. Ternyata setelah tadi dimasukkan Proris, dia pup banyaaaak hehehe. Makanya mungkin dia juga rasa gak nyaman dan KD itu pasti melelahkan, karena saya lihat tubuhnya basah dengan keringat. Mendekati RS Hermina, keadaannya mulai tenang walaupun jadi kayak agak bengong karena mungkin kecapean. Waktu masuk di IGD dan diperiksa dokter, puji Tuhan sudah mulai membaik, sudah bisa menolak dipegang dokter. It’s a good sign hehehe, karena Luke memang gak suka dipegang orang asing. Setelah saya ganti diapernya dan dia menyusu, lalu tidur di IGD barulah saya bisa diskusi dengan dokter jaga. Gak lama, mr. suami datang dan saya bisa lihat matanya menahan tangis. Ya iyalah, ngebayangin anak KD aja udah bikin sedih, apalagi ngeliat langsung 😥

Karena Luke memang baru pertama kali KD, memang disarankan untuk observasi tapi ternyata RS full dengan pasien DBD, akhirnya kami putuskan untuk bawa ke RS Mayapada saja tempat mr. suami bekerja. Jadi berbekal Stesolid, kami langsung jalan ke RS Mayapada lalu masuk ke IGD. Waktu dicek suhu, demamnya masih 39′ padahal Proris sudah masuk, Stesolid sudah masuk. Akhirnya masuk lagi Sanmol drop. Selang beberapa menit karena demam masih manteng, lalu masuk lagi Sanmol 2 botol (lewat selang infus) dan hasilnyaaaa? demam manteng terus. Akhirnya diputuskan untuk infus dan masuk ke kamar perawatan.

Jadi mulai tgl 3 – 6 Mei kemarin, menginaplah saya bersama suami dan bocah di RS. Yang lain pada liburan karena itu long weekend, kami juga liburan di RS.

20160504_070122

matanya sayuuu

20160504_122332

tetep gak mau pake selimut kalau bobo

 

Tapi puji Tuhan setelah 3 hari di RS, keadaan Luke sudah membaik walaupun kami harus minta pulang dengan APS (atas permintaan sendiri) karena tadinya dokter masih curiga ke DBD. Tapi saya yakin banget ini bukan DBD. Curiganya saya, mungkin infeksi Virus atau Campak karena hari Sabtu sebelumnya ada acara di TMII dan sempet kontak dengan anak sepupu yang habis sakit. Ini jadi warning juga buat saya, anak sedang atau baru sembuh sakit, ya istirahat sajalah dirumah ya. Gak usah dibawa-bawa keluar dulu yang jadinya bisa memperparah keadaan atau malah jadi menulari orang lain seperti kejadian di Luke 😦

Kecurigaan saya terbukti, waktu Luke pulang dari RS Jumat siang itu, dia langsung mau makan banyak. Padahal di RS masih susah makannya, cuma mau minum jus sama kue. Ogah sama air putih. Jadi yang makan makanan dari RS ya saya :p. Tapi begitu pulang, porsi makanannya seperti biasa langsung habis dilahap. Demam juga sudah turun dan Minggu pagi saya mulai lihat ada bercak-bercak merah dibadannya. Setelah mengamati, membaca dan menimbang (macam judge Bao), maka saya simpulkan bahwa ini adalah Roseolla, temen deketnya si Campak. Tadinya sih mau bawa ke DSAnya di RS Hermina, tapi berhubung bercaknya juga tidak terlalu nampak dan mulai menghilang setelah 2 hari jadinya ya dirumah saja istirahat sambil main dengan bocah 🙂

20160506_115136

nyampe rumah langsung nyari sepeda, kangen berat nampaknya 😀

KD ada 2: KD Sederhana seperti yang terjadi pada Luke dan KD Kompleks. Dari kejadian KDS yang dialami Luke ini, saya mau share beberapa info yang mungkin berguna:

  1. KDS biasanya menyerang anak-anak dibawah usia 6thn. Dan biasanya anak laki-laki lebih rentan terserang KDS karena daya tahan tubuhnya lebih rendah dibandingkan anak perempuan.
  2. Saat KDS menyerang, jangan panik. Yeaaah, rite!! hahahaha, pada kenyataannya saya panik. Tapi memang tidak boleh panik harusnya. Sebaliknya, tetap tenang dan amati berapa lama KDS terjadi, bagaimana keadaan saat KDS, dll. Info ini diperlukan oleh dokter nantinya.
  3. Jangan lawan ketegangan/ kekakuan tubuh anak karena bisa berakibat fatal. Pastikan saja anak terbaring dengan kepala menyamping. Kenapa? supaya tidak ada cairan atau apapun yang akan menghalangi jalan pernapasannya dan bikin dia tersedak.
  4. Jangan memasukan jari atau benda apapun kedalam mulut anak. Big NO! sangat sedikit kemungkinannya anak akan menggigit lidahnya, karena saat kejang, lidah biasanya nempel ke langit mulut. Lagian, digigit itu sakittttttttttttttttt!
  5. Kalau sudah pernah kena KDS, pastikan punya stok Stesolid. Tapi saya pun tidak yakin bisa memasukkannya ke anus anak yang sedang KD sih, wong badannya kan tegang semua ya 😦 jadi lebih baik awasi terus saat KD.
  6. Bila setelah KD, anak menangis kencang, itu pertanda baik. Tapi bila sebaliknya, anak terlihat lesu, tidur sangat lama, maka perlu segera konsultasi ke dokter. Kemungkinan untuk KD kompleks bisa terjadi.
  7. KDS merusak kemampuan otak anak dan bikin anak jadi bodoh, itu mitos!! KD adalah reaksi otak pada saat suhu tubuh sudah sangat tinggi diluar daya tahannya. Tapi, KD Kompleks yang berulang perlu penanganan lebih serius dan ortu juga perlu lebih aware bagaimana menghadapinya.

Mungkin ada yang punya pengalaman KD lainnya dan bisa share info juga. Saya cuma bisa share segini dulu, dengan harapan gak mau lagi liat bocah kena KD. Bikin sutriiiissss. Semoga anak-anak kita selalu sehat fisik, jasmani dan rohani nya. Amiiinn.

 

20160510_145223

sudah sehaaat 😉

Iklan